Lewati ke konten utama

System Analyst — Pertanyaan Interview

Pertanyaan umum beserta contoh jawaban. Gunakan language switcher (kanan atas) untuk English.

Metode & proses

Functional vs non-functional requirement?

  • Functional — apa yang dilakukan sistem. "User dapat bayar dengan LinkAja." / "Admin dapat approve upload Excel."
  • Non-functional — seberapa baik. "API login respon ≤500ms di p95 dengan 1k RPS." Kategori: performance, security, availability, maintainability, scalability, portability.

NFR yang baik bisa diukur — ada angka, percentile, dan kondisi beban.

Bagaimana menangani stakeholder yang terus mendeskripsikan solusi alih-alih masalah?

Pakai teknik 5-Whys / problem-framing. Tanyakan "kenapa" sampai kebutuhan inti muncul:

Stakeholder: "Tambah tombol di dashboard untuk export XLSX." SA: "File-nya buat apa?" → "Dikirim ke finance tiap Senin." SA: "Kalau dikirim otomatis saja, lebih baik?"

Tombol yang diminta mungkin jawaban yang benar — atau mungkin menyembunyikan kebutuhan lain yang lebih sederhana. Tugas SA adalah mendokumentasikan masalah, bukan sekadar mencatat solusi.

Walk-through SDLC

Saya pernah kerja di agile dan release-train (scaled agile). Flow yang dipakai tim engineering saya:

  1. PRD brief dari product.
  2. Technical assessment dengan engineering manager.
  3. Task breakdown menjadi card di Jira.
  4. Sprint planning untuk commit scope.
  5. Development.
  6. QA testing.
  7. Demo di akhir sprint.
  8. Regression + deployment ke production.
  9. Smoke test post-deploy.

Bagaimana memastikan requirement testable?

Setiap requirement punya acceptance criteria — pernyataan Given/When/Then yang QA dan developer sama-sama bisa rujuk. Kalau belum bisa ditulis testnya, requirement-nya belum selesai.

Workflow integrasi

Walk-through onboarding partner baru dari awal sampai akhir

Workflow yang saya jalankan untuk 100+ partner di LinkAja:

  1. NDA — tim product brief saya soal integrasi baru. Saya buat channel komunikasi (WA group / email thread), share API documentation, walk-through partner soal flow.
  2. Connection test — kumpulkan info host-to-host partner via form, submit ke infra, partner konfirmasi koneksi.
  3. Partner development — jawab pertanyaan teknis, siapkan test environment (akun, saldo, sample data).
  4. SIT / UAT — share dokumen test scenario yang sudah diapprove system analyst; partner mengeksekusi; kita triage kegagalan.
  5. Production preparation — generate credential production, kirim ke PIC partner.
  6. Ready for service — integrasi selesai dari sisi kami, partner menunggu go-live.
  7. Live.

Beberapa partner drop di tengah flow (alasan komersial, perubahan scope); itu masuk status "on hold" dengan catatan untuk resume.

Partner lapor POST /transfer return 500. Workflow kamu?

  1. Reproduce dengan payload partner persis dari log.
  2. Cek Grafana/Kibana sekitar timestamp.
  3. Identifikasi apakah integration error (payload / credential / network partner) atau system error (sisi kami).
  4. Kalau integration: dokumentasi fix, walk-through ke partner.
  5. Kalau system: raise ke system analyst / tim backend dengan reproduction, payload, dan timestamp.

Bagaimana mendesain test scenario SIT?

Minimal mencakup:

  • Happy path untuk setiap API.
  • Negative case — signature salah, credential expired, field hilang, payload malformed.
  • Edge case — amount besar, karakter spesial, idempotency, retry.
  • Failure handling — timeout, partial response.

Scenario di-review dan approval system analyst sebelum dikirim ke partner.

Behavioral

Perkenalan diri

Halo, nama saya Afif Makarim. Saat ini saya frontend developer di Mobius Digital, ditempatkan di proyek Sinarmas Quantum Engine. Sebelumnya selama 3 tahun di LinkAja sebagai BAU Integration — bekerja langsung dengan system analyst dan product manager, gather requirement, mendesain integration flow, mengsupport SIT/UAT untuk 120+ partner, dan membangun internal testing tool berbasis Telegram bot yang memungkinkan partner running test tanpa akses VPN ke network internal. Karir dimulai sebagai PHP programmer di AGIT untuk project integration.

Ceritakan kapan kamu memecahkan masalah kompleks

Selama BAU integration kami pernah hadapi deadline ketat — stakeholder penting butuh demo integrasi dalam 3 hari, sementara onboarding flow standar punya SLA per step. Saya dipanggil ke meeting full-day untuk merancang path integrasi yang simplified-but-working. Saya dokumentasikan step mana yang aman paralel, mana yang tidak, dan apa residual risk-nya. Demo jadi tepat waktu, flow formal diselesaikan setelahnya.

Strengths & Weakness

Strengths

  • Adaptasi — transisi karir BAU integration → frontend membuat saya cepat beradaptasi lintas domain.
  • Fast learner — 5 project berbeda dalam satu placement, saya pelajari dokumentasi dan teknologi tiap project.

Weakness

  • Di situasi baru kadang kurang percaya diri dan terlalu sering minta validasi manajer. Saya mengasahnya dengan deliberately ambil stretch task dan minta feedback lebih awal dan spesifik.

Kenapa pindah dari frontend ke peran SA / integration?

3 tahun di BAU integration memberi saya instinct kuat untuk requirement-gathering dan komunikasi partner. Setelah 3 tahun di frontend, saya sadar pekerjaan yang paling saya nikmati ada di boundary — mendesain kontrak antara sistem dan manusia. Peran consultant / system analyst memakai dua sisi: telinga integrator untuk memahami stakeholder, dan instinct developer untuk apa yang masuk akal secara teknis.

Behavioral (English)

Tell me about yourself

Hi, I'm Afif Makarim. I'm currently a frontend developer at Mobius Digital placed on the Sinarmas Quantum Engine project. Before that I spent 3 years at LinkAja as BAU Integration — supporting 120+ partner integrations through SIT/UAT and building internal tooling.

Siap menguji diri?

Lanjut ke Kuis — 10 pertanyaan tentang fundamental SA dan workflow integrasi.